Curhatan Cowok yang Kebelet Jadi Penulis
Sewaktu lagi tarawih, gue suka memperhatikan makmum-makmum
yang ada di masjid. Hasilnya, gue menyimpulkan ada dua jenis makmum saat
mereka mengucapkan kata ‘Amin’ di akhir surat Al-Fatihah. Makmum jenis pertama:
makmum yang mengucapkan ‘amin’ dengan nada rendah. Suaranya terdengar berat dan
tidak terlalu nyaring. Makmum jenis kedua: makmum yang mengucapkan ‘AMIIIN’
dengan nada tinggi. Suaranya nyaring dan sedikit melengking.
Berhubung gue orangnya gak punya pendirian, maka gue
gabung jadi 'aammIIIIN', dengan nada rendah di awal, tinggi di akhir, dan sedikit sentuhan vibra.
Ribet yak?
Ribet yak?
Kata orang, bulan Ramadhan adalah bulan untuk mempererat tali
silaturahim. Itu bener banget. Seketika, gue jadi ngumpul bareng lagi sama teman
lama waktu lagi BUKBER. Kemarin, gue juga Sahur On The Road (sahur
di jalan) bareng teman-teman Malang. Cuma praktiknya, kami gak beneran makan di jalan
dengan lauk aspal dan sambal pasir. Enggak. Makannya tetap di warung.
Terakhir, gue sempat ikutan futsal bareng teman SMA. Selesai futsal, kami ngobrol-ngobrol sebentar. Lalu, ada salah satu yang
curhat, “Akhir-akhir ini gue suka insomnia, susah tidur. Begadang mulu jadinya.”
Sebenarnya, insomnia bukan seperti itu. Gue pernah ikutan kelas, di sana dosen gue menerangkan bahwa
insomnia bukan berarti tidak bisa tidur sama sekali.
“Insomnia itu bisa tidur. Terus tengah malam terbangun,
setelah itu ga bisa tidur lagi,” jelas dosen.
Dan itu hampir mirip sama gue. Bedanya, gue bisa tidur... tapi ga
bisa bangun lagi. TIDUR MATI. Sampai-sampai nyokap gue pernah mau siram air
gara-gara gue gak bangun. Apalagi pas bulan Ramadhan. Jadwal tidur gue mendadak
berubah. Malamnya begadang sampai sahur, tidurnya dari pagi sampai siang.
Tidurnya TIDUR MATI, pula.
Tapi, walaupun sering begadang, gue selalu mengisinya dengan
kegiatan positif. Gue selalu mengingat pesan Bang Rhoma: “Begadang boleh kalau ada
perlunya. Kalau tidak ada, juga gapapa.”
Kegiatan yang gue lakukan waktu begadang itu biasanya Twitter-an,
nonton YouTube, baca buku dan hal-hal tidak berguna lainnya. Terkadang, gue
juga telepon-teleponan sama pacar yang tinggal di Pulau Lombok. Maklum, lagi LDR (Lelah Dipisah Relationship).
Ngomong-ngomong Lombok, menurut gue, orang-orang di sana itu kasihan. Misalnya, suatu waktu mereka ditanya, “Lahir di mana?”
Ngomong-ngomong Lombok, menurut gue, orang-orang di sana itu kasihan. Misalnya, suatu waktu mereka ditanya, “Lahir di mana?”
“Di Lombok.”
Gue nggak kebayang, betapa sempitnya rahim sebiji Lombok
untuk melahirkan manusia. (Apalagi lombok rawit, ya.) Dan yang pasti, bayi baru
lahir di sana akan menangis lebih kencang dibanding bayi biasanya. Kenapa? Ya
bayangin sendiri aja gimana rasanya 9 bulan hidup di dalam lombok. Pedes, cuy!
Anyway, gue sekarang lagi bingung. Bingung mau curhat apaan lagi...
Anyway, gue sekarang lagi bingung. Bingung mau curhat apaan lagi...
Nggg.... Oh, iya!
Saking ‘kebeletnya’ jadi penulis, 3 minggu lalu, gue
bela-belain beli buku mahal karyanya A. S. Laksana berjudul “Creative Writing”.
Harganya cukup lah untuk membuat dompet ngos-ngosan. Tapi, sesuai dong sama
isinya. Dari sana gue belajar buaaanyak. Bagi yang pengen jadi penulis, boleh
tuh dompetnya ikut ngos-ngosan.
Dan buku incaran gue selanjutnya adalah “Kitab Suci Stand Up
Comedy” karya Ramon Papana. Gue punya ketertarikan lebih sama komedi. Bisa
dibilang, fall in love. Terlebih
dengan genre komedi yang masih
terbilang baru di Indonesia ini, Stand Up.
Gue mengincar buku ini bukan berarti pengen jadi Comic (stand up comedian).
Gue cuma mau memahami teori komedi lebih dalam, yang tentunya
bakalan keren banget kalau ‘diblender’ dengan buku “Creative Writing”.
Tapi sayangnya, buku “Kitab Suci” ini sudah gak ada di Gramedia. Mau gak mau harus belanja di toko online. Belanja online emang lengkap sih, prosesnya juga gampang. Cuma masalahnya satu, berat di ongkos kirim. Huhuhu..
Tapi sayangnya, buku “Kitab Suci” ini sudah gak ada di Gramedia. Mau gak mau harus belanja di toko online. Belanja online emang lengkap sih, prosesnya juga gampang. Cuma masalahnya satu, berat di ongkos kirim. Huhuhu..
Hmm... Sepertinya sudah gak ada lagi perlu dicurhatkan. Gue akhiri postingan ini dengan bilang "MUAKASIH BUANYAK" buat teman-teman yang mau baca ini sampai habis. Dan di postingan selanjutnya, siap-siap buat yang laki, bakalan ada banyak foto Raisa di sana. Wohooo! Bye!
Curhatan Cowok yang Kebelet Jadi Penulis
Reviewed by Firdaus Ramdhan
on
21.7.14
Rating: 5
Reviewed by Firdaus Ramdhan
on
21.7.14
Rating: 5











